Sketsa Masjid Raya Ahmadsyah Tanjung Balai

Abstraksi
Penelitian ini adalah penelitian sejarah lokal maka untuk teknik pengumpulan datanya dipergunakan focus group discussion, wawancara, observasi partisipasi. Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan bahwa sejarah Masjid Raya Ahmadsyah Tanjung Balai merupakan bagian masa lalu Tanjung Balai, atau lebih tepatnya pada masa Kesultanan Asahan. Hal ini dapat ditandai dari penobatan nama Ahmadsyah yang merupakan sultan ke-9 dari Kesultanan Asahan pada masjid tersebut.
Masjid Raya Ahmadsyah Tanjung Balai sangat signifikan bagi pengembangan masyarakat Islam Tanjung Balai. Sebab, Masjid Raya Ahmadsyah memiliki beberapa peran utama Masjid Raya Ahmadsyah, yaitu sebagai tempat ritual keagamaan dan sebagai gerakan sosial kemasyarakatan. Kedua peran ini menunjukkan kalau Masjid Raya Ahmadsyah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pengembangan Islam di Tanjung Balai.

Keyword: Masjid Raya Ahmadsyah, Tanjung Balai, Melayu.

Latar Belakang Masalah
Penetrasi Islam secara global di Indonesia—terlepas dari perbedaan para ahli tentang kapan dan tempat pertama kalinya Islam masuk—secara jamak di ketahui telah dimulai pada abad ke-7 M. Penetrasi Islam ini membawa pengaruh yang signifikan bagi perkembangan Islam selanjutnya secara regional di seluruh seantaro Indonesia, tetapi sedikit mengalami keterlambatan pada wilayah lokal. Sebab, terjadi perbedaan waktu masuknya Islam di setiap daerah di Indonesia. Misalnya, untuk wilayah Jawa, Islam masuk pada abad ke-13 M dan di Sumatera Utara sendiri diduga kuat baru dimulai sekitar pada abad ke-15 M.
Penetrasi dan perkembangan Islam secara lokal ini banyak meninggalkan bukti-bukti historis sebagaimana Islam secara regional, sejarah yang sampai saat ini masih dapat disaksikan sebagai bukti-bukti peninggalan Islam. Misalnya—dalam konteks Islam lokal, Sumatera Utara—seperti Masjid Raya Al-Mashun, Masjid Raya Labuhan Medan, Masjid Raya Rengat, Masjid Raya Azizi, Masjid Raya Sulaimaniyah, Masjid Gang Bengkok dan Masjid Raya Pematang Siantar, yang sampai hari ini masih berdiri kokoh di berbagai daerah di Sumatera Utara merupakan bukti yang tidak dapat dibantahkan tentang peran dan perkembangan Islam di Sumatera Utara.
Dalam konteks yang lebih luas—terutama yang berkaitan dengan sejarah Islam—masjid merupakan bagian utama dari tonggak sejarah Islam itu sendiri. Dalam konteks ini secara lebih eksplisit Abdul Baqir Zein mengatakan:
Bila kita membuka lembaran sejarah, penyiaran Islam tidak lepas dari peran masjid sebagai sentral aktifitas. Misalnya, ketika Nabi Muhammad Saw. tiba di Madinah saat hijrah maka yang pertama sekali ia bangun adalah Masjid Nabawi. Demikian juga, penyiaran Islam di Jawa oleh Wali Songo, masjid tetap merupakan hal penting yang tidak dapat diabaikan. Sampai kita juga dapat melihat bukti-bukti sejarah itu. Misalnya, Masjid Sunan Ampel di Surabaya atau Masjid Agung Demak yang terkenal dengan sokotatalnya itu.
Berdasarkan kenyataan ini maka tidak mengherankan kalau masjid-masjid yang disebutkan di atas ini menjadi “saksi hidup” perkembangan dan sekaligus berperan sebagai pusat Islam di Sumatara Utara, terutama berkaitan langsung dengan Kesultanan yang pernah ada di Sumatera Utara. Dalam hal ini, sangat jelas terlihat tarik menarik relasi Islam dengan Kesultanan. Bahkan, dapat dikatakan Kesultanan Melayu yang pernah berkuasa di Sumatera Utara ini adalah merupakan Kesultanan Islam maka tidak mengherankan kalau bukti-bukti peninggalan sejarah Kesultanan ini juga berkaitan langsung dengan sejarah Islam itu sendiri seperti masjid yang disebutkan sebelumnya.
Secara lokal sebenarnya masih banyak lagi masjid-masjid bersejarah yang belum dikenal secara populer, yang mungkin terabaikan banyak para pengkaji sejarah lokal di antara salah satunya adalah Masjid Raya Ahmadsyah Tanjung Balai. Masjid ini secara lokal merupakan kebanggaan masyarakat Islam Tanjung Balai yang jelas tidak dapat dipisahkan dari pengaruh Kesultanan yang pernah berkuasa saat itu di Tanjung Balai. Untuk membuktikan kalau masjid-masjid ini berkaitan langsung dengan Kesultanan misalnya penobatan nama Masjid “Ahmadsyah” jelas diambil atau dinisbahkan dari nama Sultan Ahmadsyah yang memerintah Kesultanan Asahan pada tahun 1954.
Masjid Raya Ahmadsyah ini merupakan masjid tertua—yang pernah ada—di Tanjung Balai karena memang—sebagaimana yang disebutkan sebelumnya—masjid ini berkaitan langsung dengan Kesultanan Asahan yang pernah ada di Tanjung Balai. Dalam perkembangan selanjutnya, baik pada masa ataupun pasca Kesultanan Asahan masjid ini menjadi pusat pelbagai kegiatan, baik itu yang berkaitan dengan keagamaan, sosial dan budaya masyarakat Islam di Tanjung Balai. Hal ini jelas menunjukkan kalau Masjid Raya Ahmadsyah ini memiliki peran signifikan bagi masyarakat Tanjung Balai.
Secara fisikal masjid ini masih terawat secara baik, walaupun telah ada upaya “peremajaan” bangunan fisik masjid tersebut. Namun, bukti-bukti historis masjid ini masih sangat jelas terlihat. Sebagaimana sebelumnya disebutkan Masjid Raya Ahmadsyah Tanjung Balai memiliki peran signifikan bagi perkembangan Islam di Tanjung Balai. Sebab, masjid ini selain sebagai saksi sejarah yang paling nyata—yang masih tersisa, di samping yang lainnya—mengenai perkembangan dan dinamika Islam di Tanjung Balai, terutama pada masa Kesultanan Asahan. Termasuk juga di dalamnya perlawanan masyarakat Tanjung Balai dalam menghadapi para penjajah karena memang masjid ini juga dijadikan sebagai pusat komunikasi umat Islam dalam pelbagai aspek kehidupan.

Temuan Penelitian
A. Sketsa Masjid Raya Ahmadsyah Tanjung Balai
1. Sejarah Singkat Masjid Raya Ahmadsyah
Masjid Raya Ahmadsyah sesuai dengan namanya jelas memiliki hubungan khusus dengan—sultan ke-9 yang pernah berkuasa di Asahan yaitu—Sultan Ahmadsyah (1854-1888). Untuk itu, menelusuri akar sejarah Masjid Raya Ahmadsyah maka tentu harus diawali dari penelusuran peran Sultan Ahmadsyah, yang memang tidak dapat diabaikan terhadap sejarah awal Masjid Raya Ahmadsyah. Sebab, Sultan Ahmadsyah memiliki peran tersendiri yang signifikan bagi perkembangan sejarah Masjid Raya Ahmadsyah di Tanjung Balai.
Sultan Ahmadsyah adalah sultan yang bergelar Marhum Maharaja Indrasakti memerintah kesultanan Asahan mulai tahun 1854 hingga 1888. Sebagaimana lazimnya dalam tradisi kesultanan yang lebih cenderung monarchi hereditas maka Sultan Ahmadsyah naik tahta setelah menggantikan ayahnya Sultan Muhammad Hussein Syah (1813-1854) sebagai sultan ke-8 yang pernah memerintah di Kesultanan Asahan.
Menarik untuk ditegaskan di sini, ada perbedaan yang cukup signifikan dengan kesultanan sebelumnya, terutama sebelum pada masa Sultan Ahmadsyah berkusa, yaitu terjadinya tarik menarik kekuasaan kesultanan dengan penjajah. Sebab, pada masa pemerintahannya, Belanda, Inggris dan Aceh sedang berlangsung tarik menarik kekuasaan di Sumatera Timur, yang memaksa sebagian besar kesultanan—terutama Melayu—untuk tunduk kepada kepentingan penjajah.
Dalam perjalanan karir kepemimpinannya Sultan Ahmadsyah termasuk sultan yang paling disenangi rakyatnya. Tentang hal ini Tengku Ferry Bustami menjelaskan secara eksplisit bagaimana kepribadian Sultan Ahmadsyah. Bustami menulis:
Sultan Ahmadsyah pada masa pemerintahannya dikenal dengan pemimpin yang arif lagi bijaksana dan negeri Asahan banyak mengalami kemajuan. Penduduk sangat menyenangi beliau karena dalam masa pemerintahannya sangat memperhatikan dan melindungi kepentingan rakyatnya dan juga mempunyai sikap yang tegas dalam menyelesaikan suatu masalah yang timbul antara rakyat dengan rakyat dan rakyat dengan pemerintah dan dalam suatu mengambil keputusan tidak menguntungkan satu pihak dan mengorbankan pihak lainnya.
Terlepas bagaimana kepribadian Sultan Ahmadsyah, ia harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak ditemukan pada masa pemerintahan sebelumnya. Sebab, berbeda halnya dengan kesultanan Asahan sebelumnya belum ada tarik menarik kekuasaan ini maka di bawah kekuasaan Sultan Ahmadsyah isu ini menguat. Sultan Ahmadsyah lebih memilih menentang penjajah dan menolak kehadiran penjajah di kesultanan Asahan. Sikap Sultan Ahmadsyah yang anti penjajahan ini tentu saja bukan tanpa konsekuensi berat yang harus ia terima, terlebih lagi bagi kepentingan Kesultanan Asahan.
Perlawanan Sultan Ahmadsyah ini ditunjukkan dengan sikapnya yang secara tegas menolak kontrak kerjama yang diajukan Belanda pada masa Residen E. Netscher. Sikap perlawanan Sultan Ahmadsyah ini ditunjukkannya dengan sikap yang secara tegas tidak bersedia menandatangani kontrak tersebut dengan alasan tidak tunduk kepada Kesultanan Siak yang merupakan strategi penjajah untuk menaklukkan Kesultanan Melayu secara umum, termasuk Kesultanan Asahan.
Selain dari penolakan kontrak kerjasama, Sultan Ahmadsyah juga secara tegas menolak kedatangan Residen Netscher untuk berkunjung ke Asahan. Penolakan ini bukan hanya sikap ketidakkesetujuannya dengan apa yang ditawarkan kolonialisme, tetapi lebih dari pada itu juga merupakan bentuk pelawanan politiknya terhadap hegemoni penjajah terhadap Pantai Timur Sumatra. Namun, Sultan Ahmadsyah tidak mampu mempertahankan diri dan kekuasaannya dari segala kolonialisme penjajahan yang menghalalkan segala cara hingga akhirnya ia berhasil ditangkap dan ditaklukkan.
Peristiwa penangkapan Sultan Ahmadsyah ini memberi konsekuensi bahwa Kesultanan Asahan dipaksa harus mengakui kekuasaan Belanda yang merupakan suatu pukulan yang sangat berat bukan hanya bagi Kesultanan Asahan secara pribadi, tetapi juga bagi raja-raja Simalungun. Sebab, daerah Simalungun mempunyai hubungan khusus dengan Kesultanan Asahan dan ini juga memberi implikasi serius bagi Kesultanan Melayu yang lainnya.
Akibat lain dari penangkapan ini Sultan Ahmadsyah dan adiknya Tengku Muhammad Adil diasingkan oleh Belanda ke Riau. Pengasingan ini disebabkan kedua orang ini dianggap berbahaya bagi kepentingan kolonialisme Belanda di Asahan. Karena memang—sebagaimana yang telah disebutkan—Sultan Ahmadsyah termasuk sultan yang tidak menyetujui kehadiran Belanda untuk kepentingan memperluas kekuasaannya terhadap kerajaan-kerajaan yang ada di Pantai Sumatera Timur.
Untuk selang berapa lama, tepatnya pada tahun 1885 pemerintahan Belanda kembali mengizinkan Sultan Ahmadsyah dan Tengku Muhammad Adil untuk kembali ke Asahan dengan syarat tidak boleh campur tangan dalam masalah politik. Dengan sangat terpaksa Sultan Ahmadsyah menandatangani perjanjian politik dengan Belanda (akte van verband) pada 25 Maret 1886 di Bengkalis dan kembali memerintah Asahan pada 25 Maret 1886 sampai masa mangkatnya pada 27 Juni 1888.
Sultan Ahmadsyah sendiri mangkat tanpa memiliki keturunan. Akan tetapi, sebelum mangkat beliau pernah membuat surat wasiat untuk mengangkat anak dari saudaranya Tengku Ngah Tanjung menjadi Raja Asahan. Walaupun Sultan Ahmadsyah tidak diperbolehkan Belanda untuk terlibat dalam masalah politik, tetapi secara implisit Sultan Ahmadsyah tetap saja melakukan gerakan politik internal. Salah satu di antara politik internal yang dilakukan Sultan Ahmadsyah adalah membangun sebuah masjid—yang belakangan diberinama dengan Ahmadsyah—setelah kembalinya dari pengasingan.
Tampaknya, pembangunan dan pengembangan Masjid Raya Ahmadsyah ini sangat terinspirasi pada saat pembuangannya ke Riau itu berlangsung. Sebab, sejarah Riau mencatat bahwa sejak tahun 1762 Sultan Abdul Jalil Alamuddinsyah ketika berkuasa di Riau untuk melegetimasi kekuasaanya dengan membangun istana, balai kerapatan dan sekaligus masjid. Ketiga unsur ini dijadikan sebagai lambang persahabatan pemerintah, adat dan agama, yang populer dengan istilah “tali terpilin tiga”, yang artinya tali terpintal tiga.
Menurut beberapa sumber lokal, Sultan Ahmadsyah membangun masjid Raya Ahmadsyah dimulai tahun 1865 di atas tanah wakaf Kesultanan Asahan dengan luas 8.455 M2 (sekarang berada di sekitar Jalan Masjid) dan selesai dibangun pada tahun 1985, jauh lebih tua dari usia Masjid Raya Al-Mashum Medan yang dibangun pada tahun 1903. Pembangunan ini dilakukan tepatnya pasca kembalinya ke Sultanan Asahan dengan tujuan pertama pelaksanaan ibadah, tetapi tampaknya lebih dari pada itu Sultan Ahmadsyah meyakini—sebagaimana mungkin yang ia ketahui pada saat di Riau—bahwa masjid selain berfungsi sebagai sebuah tempat ibadah, tetapi juga merupakan tempat strategis bagi pengembangan masyarakat. Tampaknya, semangat inilah gagasan awal pembangunan Masjid Raya Ahmadsyah dimulai, yang ini juga tampaknya disemangati oleh semangat yang disebut oleh Nur Syam sebagai:
… di dalam masa-masa awal proses islamisasi, masjid menjadi tempat strategis untuk mengembangkan komunitas Islam. Selain sebagai tempat ritual, masjid juga sebagai pusat tumbuh dan perkembangnya kebudayaan Islam. Di dalam masjidlah segala aktifitas pengembangan komunitas Islam berlangsung. Di dalamnya dilakukan penyusunan strategi, perencanaan dan aksi di dalam kerangka penyebaran Islam di tengah kehidupan masyarakat.
Berdasarkan kenyataan inilah tampaknya Sultan Ahmadsyah membangun masjid tersebut dan ini jugalah yang dilakukan oleh Kesultanan Melayu lainnya seperti Masjid Alam di Riau, Masjid Azizi di Langkat dan Masjid Sulaimaniyah di Deli Serdang. Jika demikian, dapat ditegaskan bahwa sejarah awal pembangunan Masjid Raya Ahmadsyah, selain sebagai kepentingan ritual ibadah keagamaan, juga memiliki kepentingan politis untuk melawan hegemoni penjajah. Hal ini juga diperkuat kenyataan bahwa masjid ini memiliki peran sosial dan budaya bagi masyarakat Asahan saat itu hingga kini.

B. Peran Masjid Raya Ahmadsyah Tanjung Balai Dalam Pengembangan Islam
1. Referensi Keagamaan
Sebagaimana lazimnya sebuah masjid peran keagamaan merupakan praktek sentral di dalamnya. Sebab, tidak dikatakan masjid apabila tidak ada kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di dalamnya. Karena memang secara terminologi masjid sendiri berarti tempat sujud. Tempat sujud ini dimaknakan sebagai wujud pelaksanaan ibadah formal. Jadi, hal ini sudah cukup untuk membuktikan kalau masjid merupakan tempat pelaksanaan yang berkaitan dengan keagamaan, atau lebih tegas lagi tempat ibadah.
Dalam konteks praktek keagamaan ini Masjid Raya Ahmadsyah berperan sebagai referensi keagamaan. Peran ini dapat dilihat secara jelas dari berbagai aktifitas kegiatan yang dilaksanakan di dalamnya. Selain dari kegiatan yang berkaitan khusus juga dengan kegiatan keagamaan, tradisi dan sosial. Semuanya dilaksanakan secara simultan. Bahkan, menyatu dalam berbagai aktifitas yang dilakukan di dalamnya.
Peran Masjid Raya Ahmadsyah dalam pengembangan Islam bukan hanya melibatkan kelompok elit pengurus Masjid dari kalangan bapak-bapak atau ibu-ibu saja, tetapi juga remaja dan anak-anak juga terlibat secara aktif di Masjid Raya Ahmadsyah mengambil perannya sendiri. Pelaksanaan kegiatan ini dapat dipertegas lagi dalam beberapa bentuk formal, di antaranya seperti pengajian dan bimbingan manasik haji. Dari kedua kegiatan ini kegiatan yang pertama yang paling banyak dilakukan dari semua kalangan dan kegiatan yang kategori kedua hanya dilaksanakan oleh kelompok-kelompok tertentu.
Sedangkan Masjid Raya Ahmadsyah sebagai sarana ibadah formal juga memiliki peran signifikan bagi pencerahan bagi masyarakat. Sebab, ada tradisi rutin yang dilakukan masyarakat dari berbagai kalangan, yaitu kalangan bapak, ibu, remaja dan anak-anak. Semua kalangan terlibat secara aktif dalam kegiatan pengajian yang secara reguler dilakukan setiap satu kali dalam seminggu. Tampaknya, ini juga berkaitan langsung dengan tradisi yang dilakukan Masjid Raya Ahmadsyah dari sejak awal berdirinya ketika berada pada kekuasan Sultan Asahan.
Pada masa awal kesultanan-kesultanan Melayu sangat terkenal dengan kedekatannya dengan ulama. Bahkan, menurut Azyumardi Azra penyebutan istilah “sultan” bagi gelar raja-raja melayu jelas menunjukkan kedekatan Islam dengan Kesultanan Melayu. Untuk itu, tidak mengherankan kalau praktek keagamaan seperti pengajian dalam artian konvensional telah dipraktekkan dari dahulu. Sebab, kedekatan Kesultanan Melayu dengan ulama menjadi tradisi tersendiri. Bahkan, beberapa Kesultanan Melayu memberikan beasiswa bagi calon sarjana dari daerah masing-masing untuk menuntut ilmu ke luar negeri, seperti ke Mekah dan Mesir. Diduga kuat Kesultanan Asahan juga melakukan yang sama dan memiliki “ulama-ulama istana” sebagai jembatan Kesultanan dengan masyarakat.
Dalam konteks kekinian, secara organisatoris Masjid Raya Ahmadsyah terdiri atas beberapa kepengurusan, yaitu terdiri dari kaum bapak-bapak, ibu-ibu dan remaja. Dalam teknis pelaksanaan kegiatan keagamaan di Masjid Raya Ahmadsyah umumnya dilakukan dalam bentuk pengajian, yang terbagi pada empat kategori, yaitu pengajian bapak-bapak, ibu, remaja dan anak-anak. Keempat kateori pengajian ini dilaksanakan satu kali seminggu dengan kecenderungan tema masing-masing dan berbeda dengan pengajian anak-anak memiliki mekanisme tersendiri.
Bentuk pengajian yang dilaksanakan di Masjid Raya Ahmadsyah dapat dikategorikan dalam beberapa bentuk, di antaranya:
1) Pengajian Mingguan
Pengajian mingguan adalah pengajian yang diadakan satu kali dalam seminggu. Teknis pelaksanaannya biasanya dengan menghadirkan ustaz-ustaz lokal dan tidak jarang juga mengundang ustaz yang dari luar daerah. Pelaksanaan pengajian mingguan ini telah lama dipraktekkan. Bahkan, silih berganti dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut Ratna Wilis:
Dari dulu pangajian seperti ini sudah ado, dan sepangetahuan saya, semenjak saya tahu mengaji sudah ado, ya bagitulah…
Berdasarkan kenyataan ini dapat ditegaskan bahwa pelaksanaan pengajian mingguan ini merupakan tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari Masjid Raya Ahmadsyah. Karena memang hampir dapat dipastikan tidak ada masjid, khususnya yang berada di daerah Melayu yang sepi dari kegiatan pengajian seperti ini. Hal ini juga tampaknya berkaitan langsung dengan tradisi yang berkembangan di daerah-daerah Islam lainnya, yang mempraktekkan pengajian mingguan di masjid sebagai bagian tradisi kehidupan masyarakat.
Dalam hal teknis pengajian mingguan ini terdiri atas empat kategori, yaitu pengajian bapak-bapak dilaksanakan setiap malam Sabtu dan pengajian ibu-ibu dilakukan pada siang harinya, yaitu Sabtu. Sedangkan pengajian remajanya dilaksanakan setiap malam minggu setiap minggunya. Sedangkan dari aspek materi pengajian yang dilaksanakan sangat beragam. Misalnya, di kalangan pengajian mingguan bapak-bapak tema pengajiannya sangat bervariasi, ada yang bertemakan tauhid, fikih, tasauf, dan lainnya semuanya dilakukan secara bergentian berdasarkan hitungan minggu pertama, kedua dan seterusnya.
Pengajian mingguan ibu-ibu juga memiliki tema yang hampir sama dengan bapak-bapak juga sangat bervariasi. Dalam setiap pelaksanaan pengajian minggu biasanya diakhiri dengan adanya tanya jawab antara ustaz yang memimpin pengajian dengan para jama‘ah yang terdiri atas bapak-bapak atau ibu-ibu tersebut. Yang menarik dari hasil tanya jawab tersebut umumnya setiap materi selalu dikaitkan dengan hal-hal yang berkembang. Paling tidak melalui pengajian mingguan ini bapak-bapak dan ibu-ibu tercerdaskan dengan informasi-informasi yang bersumber dari ustaz tersebut dan hasil dari pengajian ini umumnya disosialisasikan para bapak-bapak atau ibu-ibu ke dalam rumah tangganya.
Letak peran signifikan Masjid Raya Ahmadsyah sebagai referensi keagamaan. Sebab, segala bentuk yang berkaitan dengan masalah keagamaan selalu saja diputuskan di masjid dengan menghadirkan para ustaz yang berkompetensi di bidangnya. Contoh sederhana yang dapat dikemukan di sini misalnya adalah ketika terjadi perbedaan penetapan awal ramadhan dan hari raya idul fithri. Para bapak-bapak dan ibu-ibu yang terlibat dalam pengajian selalu menyelesaikan masalah tersebut dengan menghadirkan para ustaz yang dapat berperan sebagai peredam konflik dan kesimpangsiuran informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Selain dari pengajian kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu, pengajian mingguan bagi kalangan remaja juga dilaksanakan secara aktif. Namun, ada perbedaan dalam hal teknis isi materi pengajian. Sebab, bagi kalangan remaja pengajian mingguan umumnya berisikan tentang tema-tema umum semata yang sesuai dengan karakter remaja, yang tidak mau dipusingkan dengan masalah-masalah yang berat. Untuk itu, kecenderungan materi pengajian yang dilakukan remaja lebih menitikberatkan pada pembinaan diri dari segala bentuk yang dapat mencelakan diri dan masa depan para remaja.
Sebagaimana lazimnya sebuah pengajian mingguan—baik dari kalangan bapak-bapak, ibu-ibu dan remaja—dinamika tetap saja ada. Misalnya, kekurangaktifan anggota pengajian menjadi persoalan serius, tetapi pelaksanaan pengajian mingguan tetap berjalan sebagaimana mestinya, walaupun di sana sini ada kendala yang selalu menghambat. Akan tetapi, pengajian mingguan ini tetap survive—sampai penelitian ini dilakukan—menjadi bukti kalau pelaksanaan pengajian bukan hanya sebuah rutinitas belaka, tetapi lebih dari itu telah menyatu dalam kultur Masjid Raya Ahmadsyah tersebut.
2) Pengajian Bulan Ramadhan
Pengajian bulan ramadhan adalah pengajian yang dilaksanakan pada saat bulan ramadhan. Kegiatan pengajian bulan ramadhan rutin diadakan setiap bulan ramadhan dari awal ramadhan hingga akhir ramadhan. Dalam konteks pengajian bulan ramadhan ini tidak ada tema khusus, melainkan lebih bersifat umum. Sebab, jama‘ah yang hadir dari semua kalangan, baik itu kalangan bapak-bapak, ibu-ibu, remaja hingga anak-anak semuanya tergabung secara keseluruhan dalam pelaksanaan pengajian tersebut.
Dalam bulan ramadhan ini di Masjid Raya Ahmadsyah ini ada tradisi yang terus dilaksanakan sampai saat ini, yaitu ketika menyambut bulan ramadhan ada diadakan semacam Kenduri Nasi atau dalam dialek lokal disebut “hari mongang”. Tradisi “hari mogang” ini tampaknya berasal dari Aceh dengan dialek “uroe ma’meugang” yang berarti hari-hari puasa dimulai. Sebab, diketahui secara jamak bahwa Kesultanan Asahan memiliki akar sejarah dengan Kerajaan Aceh.
Pelaksanaan kenduri nasi ini dilakukan dengan teknis setiap jama‘ah yang hadir harus membawa nasi atau makanannya sendiri dari rumah ke masjid. Biasanya pelaksanaan ini dilakukan setelah semua makanan terkumpul dilaksanakanlah acara doa bersama yang dipimpin seorang ustaz atau pemuka agama dan setelah itu dilaksanakan makan bersama.
Kesan yang tertangkap dari filosofis pelaksanaan Kenduri Nasi ini dimaksud untuk mewujudkan silaturrahmi dan upaya pembersihan diri dari segala bentuk dosa-dosa sosial kemanusiaan. Sebab, dalam pelaksanaan Kenduri Nasi biasanya diakhiri dengan makan bersama dan ditutup dengan acara salaman saling bermaafan di antara jama‘ah yang hadir. Hal ini tentu saja dimaksudkan sebagai upaya penyucian diri dari segala bentuk dosa-dosa yang berkaitan dengan sesama maka untuk memasuki bulan ramadhan harus diawali dari kesuciaan.
Ada juga tradisi yang bersifat personal, tetapi ini hanya dilakukan oleh kelompok-kelompok yang menjunjung tinggi tradisi, yaitu sebelum memasuki bulan ramadhan melakukan ritual “mandi limau”. Namun, ritual ini tidak populer di kalangan generasi mudanya. Akan tetapi, diduga kuat di kalangan masyarakat tertentu tetap melakukan ritual tersebut.
Tradisi lain yang penting juga disebutkan di sini, yang mungkin juga ditemukan di tempat lain pada saat bulan ramadhan adalah berbuka bersama. Berbuka bersama di Masjid Raya Ahmadsyah telah menjadi tradisi yang sudah lama sekali. Sebab, tradisi berbuka bersama ini selain memang memiliki doktrin keagamaan juga tentunya menjadi bagian dari tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, Masjid Raya Ahmadsyah memiliki peran tersendiri, yaitu berbuka bersama menjadi bagian yang rutin terus setiap tahun dilaksanakan ketika bulan ramadhan datang dengan keanekaragamannya.
Dalam hal teknis, penyediaan makanan dan minuman pada acara pelaksanaan berbuka puasa bersama biasanya dilakukan dengan cara bergiliran setiap jama‘ah Masjid Raya Ahmadsyah. Namun, tetap terbuka untuk umum yang bersedia untuk memberikan makanan atau minum bagi pelaksanaan berbuka bersama tersebut. Selain itu, tradisi lain yang menjadi ciri khas daerah Melayu adalah setiap acara berbuka biasanya disediakan menu yang tergolong unik, yaitu bubur pedas. Akan tetapi, tradisi bubur pedas ini belakangan sudah jarang dilaksanakan di Masjid Raya Ahmadsyah. Namun, yang terpenting untuk disebutkan di sini adalah bahwa tradisi bubur pedas pada acara berbuka puasa menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Melayu.
Kenyataan ini diperkuat bahwa setiap ada masyarakat Melayu, tentu bubur pedas bukanlah sesuatu yang aneh. Hal ini tentu saja memperkuat kenyataan bahwa tradisi bubur pedas merupakan khas utama masyarakat Melayu. Bahkan, menurut Luckman Sinar “bubur pedas ini adalah makanan khas Melayu Sumatera Timur pada waktu berbuka puasa. Biasanya lagi dimakan dengan anyang”. Begitu juga Masjid Raya Ahmadsyah, walaupun belakangan sudah jarang melaksanakan atau menyediakan bubur pedas pada saat berbuka puasa, tetapi cukup bukti kalau tradisi bubur pedas itu merupakan bagian dari tradisi yang ada di Masjid Raya Ahmadsyah tersebut.
Dalam pelaksanaan shalat tarawih—sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya—bahwa Masjid Raya Ahmadsyah dalam pelaksanaan keagamaan lebih cenderung pada mazhab al-Syafi‘î. Untuk itu, dalam pelaksanaan shalat tarawih Masjid Raya Ahmadsyah secara resmi melaksanakan shalat tarawih dengan hitungan 23 rakaat, yang secara kontras berbeda dengan “kelompok muda” lainnya. Kemudian, selain tradisi yang berkaitan khusus dengan bulan ramadhan yang telah disebutkan ini, ada lagi tradisi lain yang lebih bersifat edukatif, yaitu tradisi tadarus al-Qur’an. Berbeda dengan tadarus umumnya yang dilakukan, di Masjid Raya Ahmadsyah pelaksanaan tadarus—terutama pada masa awalnya—bukan hanya sekedar membaca al-Qur’an, tetapi lebih dari pada itu juga tadarus juga menjadi ajang perbaikan bacaan, terutama dalam bidang fashahah.
Pelaksanaan tadarus al-Qur’an dengan sistem fashahah juga mengalami pergeseran dari yang ekstra ketat menjadi agak lentur hanya sekedar membaca dengan memperhatikan pajang-pendek bacaan saja. Selain dari pada itu, ada tradisi lain yang tetap dikekal sampai hari ini adalah bahwa pada penghujung 21 sampai 29 puasa ramadhan i‘tikaf berjama‘ah di masjid. Pelaksanaan i‘tikaf ini dimaksudkan untuk memperbanyak amal shalih, terlebih lagi menunggu saat turunnya lailatul qadar. Bagi jama‘ah Masjid Raya Ahmadsyah ada semacam kepercayaan bahwa lailatul qadar akan turun pada malam-malam penghujung ramadhan, tepatnya malam-malam ganjil tersebut.
3) Pengajian Remaja Masjid
Remaja masjid sebagian organ kepengurusan remaja dalam Masjid Raya Ahmadsyah juga tidak kalah penting perannya. Sebab, Remaja Masjid Raya Ahmadsyah dalam event-event keagamaan selalu memainkan peran tersendiri, baik itu yang berkaitan khusus dengan keagamaan ataupun tradisi. Untuk itu, sangat tepat sekali untuk disebutkan apa saja peran yang telah “dimainkan” Remaja Masjid Raya Ahmadsyah dalam pengembangan dan pemberdayaan peran keagamaan dan tradisi di tengah masyarakat.
Dalam peran keagamaan remaja masjid ini memiliki pengajian tersendiri, yang jelas berbeda dengan teknis pelaksanaan pengajian yang dilakukan oleh bapak-bapak dan ibu-ibu. Perbedaannya adalah sesuai dengan kategori remaja tentu saja materi pengajiannya jauh sedikit lebih “cair” apabila dibanding dengan pengajian yang dilakukan bapak-bapak dan ibu-ibu. Pengajian remaja masjid ini dilakukan secara simultan setiap minggu sekali dengan menghadirkan berbagai ustaz yang disesuaikan dengan kebutuhan para remaja masjid tersebut.
Dalam kegiatan keagamaan remaja masjid menjadi signifikan. Sebab, hampir tidak ada kegiatan yang serius tanpa melibatkan remaja masjid. Untuk menyebut misalnya dalam kegiatan Perayaan Hari-Hari Besar Islam (PHBI) seperti Isra‘ Mi‘raj, Maulid, Tahun Baru Hijriah, dan lainnya remaja masjid selalu menjadi yang terdepan, terutama yang berkaitan teknis pelaksanaannya. Di samping keterlibat langsung dengan kegiatan keagamaan, dalam kegiatan yang berkaitan dengan tradisi juga Remaja Masjid Ahmadsyah memiliki andil tersendiri dalam upaya pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan.
Dalam konteks kegiatan yang berkaitan dengan tradisi ini Remaja Masjid Ahmadsyah juga menjadi kelompok yang terdepan. Namun, kegiatan yang melibatkan remaja masjid umumnya hanya berkaitan tentang masalah teknis semata. Sedangkan dalam proses membuat kebijakan atau agenda tertentu umumnya melibatkan remaja masjid melalui diskusi formal ataupun semi-formal, tidak sepenuhnya berada di tangan para pengurus inti Masjid Raya Ahmadsyah. Dalam hal teknis, yang melibatkan remaja masjid misalnya seperti pelaksanaan tradisi Kenduri Serabi remaja masjid sepenuhnya terlibat, terutama yang berkaitan dengan tugas pembagian dan penyamarataan kepada para jama‘ah yang hadir pada saat kegiatan keagaamaan dilaksanakan.
Selain keterlibatan dalam banyak kegiatan teknis, Remaja Masjid Ahmadsyah juga secara khusus mengadakan kegiatan-kegiatan keagamaan yang bertema seni, yang sepenuhnya diperankan oleh Remaja Masjid Ahmadsyah sebagai pelaksananya, walaupun tetap saja meminta dukungan dari pihak bapak-bapak dan ibu-ibu. Kegiatan yang bertemakan sendiri setidaknya dapat dikategorikan pada beberapa hal, di antaranya seperti lomba azan, lomba marhaban, pop song Islami, dai cilik dan lain-lainnya semua yang bersesuaian dengan kecenderungan pada masa remaja.
Kegiatan-kegiatan yang diprakarsai Remaja Masjid Ahmadsyah ini sudah cukup kuat menunjukkan kalau remaja masjid ini terlibat secara aktif dalam upaya pengembangan agama dan penjagaan tradisi yang ada di Masjid Raya Ahmadsyah tersebut. Hal demikian tentu saja tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, baik masyarakat ataupun pemerintah setempat. Dukungan ini diberikan dalam bentuk moril biasanya dari masyarakat dan materil dari pemerintah setempat.
4) Pengajian Anak-anak
Pengajian anak-anak adalah pengajian yang diberikan kepada anak-anak dengan kategori usia pendidikan sekolah dasar. Pelaksanaan pengajian anak-anak ini berbeda secara khusus dengan pengajian kelompok bapak-bapak, ibu-ibu dan remaja. Pengajian anak-anak lebih dititik beratkan pada upaya pelatihan kemampuan membaca al-Qur’an anak-anak yang dibimbing oleh seorang guru / ustaz mengaji. Dalam hal teknis, pengajian awalnya mempergunakan metode alif-alif, yaitu belajar membaca al-Qur’an dengan sistem alif-alif yang populer di kalangan masyarakat Melayu. Namun, metode ini sudah jarang dilakukan untuk mengajarkan membaca al-Qur’an. Sebab, ada metode baru yang lebih mudah dan efektif dalam mengajarkan anak untuk membaca al-Qur’an, yaitu metode iqrâ’.
Pelaksanaan pengajian anak-anak ini selain membaca al-Qur’an secara formal, juga diiringin dengan menghafal ayat-ayat pendek dari surat juz ‘amma. Sistem pengajian anak-anak ini tidak sama seperti pendidikan formal. Sebab, tidak memiliki kelas khusus—sebagaimana yang dipraktekkan dalam pendidikan formal—dan cenderung dipraktekkan dengan sistem halaqah dengan teknis guru di kelilingi para anak-anak yang menjadi murid-murid.
5. KBIH
Masjid Raya Ahmadsyah selain memiliki peran signifikan dalam pelaksanaan keagamaan formal, juga lebih dari pada itu Masjid Raya Ahmadsyah juga memfasilitasi berdirinya Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH). Pendirian KBIH ini dimaksudkan untuk membantu para calon jama‘ah haji yang akan melaksanakan ibadah haji. Pelaksanaan rutinan pengajian mingguan menjadi cikal bakal berdirinya KBIH tersebut. Sebab, dalam kegiatan pengajian yang dilaksanakan terkadang tidak terlepas dari perbincangan masalah-masalah yang berkaitan dengan ibadah haji.
Dari berbagai tema yang dijadikan menjadi topik utama pengajian mingguan yang dilaksanakan maka teknis pelaksanaan KBIH menjadi sangat dirasakan sangat mendesak untuk diadakan. Untuk menyahuti kebutuhan bimbingan masik haji inilah maka diupayakanlah untuk membentuk sebuah KBIH bagi jama‘ah-jama‘ah yang akan melaksanakan ibadah haji dari kalangan jama‘ah Masjid Raya Ahmadsyah. Untuk mewujudkan keinginan terbentuknya KBIH maka oleh beberapa orang diinisiatifilah untuk menghadirkan ustaz sebagai pembimbing pelaksanan manasik haji maka seiring dengan waktu—bersamaan dengan kebutuhan jama‘ah Masjid Raya Ahmadsyah—maka diresmikanlah sebuah KBIH di Masjid Raya Ahmadsyah sampai saat ini.
Dalam teknis pelaksanaan bimbingan manasik haji KBIH Masjid Raya Ahmadsyah biasanya melaksanakannya setiap hari minggu dalam seminggu. Pelaksanaan bimbingan manasik haji ini terdiri atas jama‘ah bapak-bapak dan jama‘ah ibu-ibu. Bahkan, terkadang juga terdiri atas jama‘ah non Masjid Raya Ahmadsyah, terutama kelompok elit masyarakat yang memiliki kesibukan waktu umumnya memilih KBIH Masjid Raya Ahmadsyah sebagai tempat latihan manasik haji untuk melaksanakan ibadah haji.
Pilihan ini tentu saja dimaksudkan KBIH Masjid Raya Ahmadsyah memiliki penilaian tersendiri bagi masyarakat. Hal ini tentu saja berkaitan langsung dengan posisi Masjid Raya Ahmadsyah yang menjadi kebanggaan bagi masyarakat Tanjung Balai sekitarnya sebagai sebuah masjid yang memiliki nilai status sosial tinggi di kalangan masyarakat. Selain itu, penting juga ditegaskan di sini bahwa setelah proses manasik haji dilakukan, terutama pada saat prosesi pemberangkatan juga dilakukan beberapa acara khusus tertentu.
Acara khusus yang dimaksud adalah pelaksanaan upah-upah, mendoa, memanggil anak yatim, dan lainnya. Itu semua bukan hanya dilakukan di kalangan keluarga yang akan berangkat haji, tetapi sudah menjadi resmi dalam instansi pemerintah ataupun swasta, itu semua dilaksanakan di Masjid Raya Ahmadsyah. Tampaknya, itu semua beranjak dari pandangan bahwa pelaksanaan ibadah haji merupakan ibadah yang sangat penting bagi proses penumbuhan sikap ketakwaan menuju yang sakral. Dapat ditegaskan bahwa pelaksanaan bimbingan manasik haji KBIH di Masjid Raya Ahmadsyah jelas menunjukkan kalau masjid tersebut berperan secara aktif dalam upaya pencerahan dan pembimbangan masyarakat.
2. Sosial Kemasyarakatan
Selain peran keagaman Masjid Raya Ahmadsyah juga memiliki peran sosial kemasyarakatan. Peran sosial kemasyarakatan ini dibuktikan dengan banyaknya kegiatan yang secara langsung bersentuhan dengan masalah-masalah sosial. Masalah sosial ini juga tidak secara langsung juga berhubungan khusus dengan ibadah formal. Namun, perbedaan yang signifikan dengan pelaksaan ibadah formal yang disebut sebelumnya, pelaksanaanya lebih menitik beratkan pada wilayah keagamaan formal semata dan sedangkan peran sosial kemasyarakatan lebih berfokus pada wilayah-wilayah kemanusiaan.
Peran sosial kemasyarakatan ini lebih mengemukan nilai-nilai kemanusiaanya dibanding ibadah secara formal sebagaimana yang praktek secara luas. Peran sosial kemasyarakatan Masjid Raya Ahmadsyah ini buktikan dengan keterlibat seluruh masyarakat dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Dalam hal ini, dapat juga disebutkan bahwa Masjid Raya Ahmadsyah secara organik juga mengapresiasi hal-hal yang bersentuhan dengan masalah sosial secara lebih teknis.
1. Pemotongan Hewan Kurban
Pelaksanaan pemotongan hewan kurban merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Masjid Raya Ahmadsyah. Sebab, pelaksanaan pemotongan hewan kurban ini menjadi bagian yang telah menyatu dari kegiatan tahunan Masjid Raya Ahmadsyah. Pelaksanaan pemotongan hewan kurban ini dilaksanakan tepatnya pada saat hari raya idhul adha, sebagaimana lazimnya umat Islam secara global melaksanakan yang sama. Di sinilah, Masjid Raya Ahmadsyah tidak ketinggalan dalam upaya pelaksanaan pemotongan hewan kurban tersebut.
Teknis pelaksanaan pemotongan hewan kurban ini lazimnya diprakarsai dengan adanya panitia yang terlibat secara khusus, yang bekerja secara kontiniu untuk mengumpulkan uang dari setiap orang yang bersedia menjadi penyumbang hewan kurban dengan sistem cicilan yang sangat dinamis. Sebab, sistem cicilan ini ada yang dilakukan setiap bulan sekali dan ada juga yang dilakukan setiap mingguan. Keantusiaan para penyumbang hewan kurban dengan sistem cicilan ini menunjukkan begitu kuatnya antusiasme jama‘ah Masjid Raya Ahmadsyah untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban.
Panitia hewan kurban ini jauh hari telah bekerja sebelum prosesi pelaksanaan pemotongan hewan kurban dilaksanakan, termasuk juga menyediakan hewan kurban akan yang dikurban pada saat pelaksaan hewan kurban dilaksanakan. Berdasarkan kenyataan ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pemotongan hewan kurban, khususnya bagi Masjid Raya Ahmadsyah adalah merupakan sesuatu yang telah mengakar kuat di tengah masyarakatnya. Hal ini juga diperkuat dengan asumsi bahwa penyembelihan hewan kurban telah lama dipraktekkan, atau sangat mungkin saja dari sejak awal berdirinya Masjid Raya Ahmadsyah ini telah dipraktekkan.
Pada prosesi pelaksanaan pemotongan hewan kurban—lazimnya sebagaimana tradisi yang ada di Masjid Raya Ahmadsyah—setiap yang berkurban harus hadir menyaksikan hewan akan ia kurban itu untuk disembelih, yang mana sebelumnya prosesi pelaksanaan ini dilaksanakan maka ada semacam serah terima secara simbolik antara yang berkurban dengan yang melakukan prosesi pemotongan hewan kurban. Tradisi ini tampaknya bersentuhan langsung dengan pemahaman keagamaan yang cenderung mazhab al-Syafi‘i sentris maka tidak mengherankan pengekalan tradisi seperti masih tetap dipertahankan.
Setelah prosesi penyembelihan selesai dilakukan maka proses selanjutnya adalah pembagian daging kepada jama‘ah Masjid Raya Ahmadsyah. Dalam pelaksanan pembagian daging kurban ini seluruh unsur yang terlibat dalam kepengurusan masjid terlibat secara aktif, baik dari kalangan bapak-bapak, ibu-ibu hingga remaja. Pemberian hewam kurban tentu saja dimaksud untuk menumbuhkan sikap sosial sesama manusia.
2. Khitan Masal
Khitan masal merupakan bagian peran sosial kemasyarakatan Masjid Raya Ahmadsyah, tetapi pelaksanaanya tidak sama sebagaimana pelaksanaan pemotongan hewan kurban yang dilakukan setiap tahun. Sebab, pelaksanaan khitan masal tidak terikat pada waktu tertentu, melainkan sangat tergantung kesiapan pihak pelaksanakan untuk melaksanakannya. Namun, pelaksanaan khitan masal tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Masjid Raya Ahmadsyah karena pelaksanaan tetap saja diadakan, walau tidak terikat oleh ketentuan waktu tertentu.
Pelaksanaan khitan masal ini dilakukan, khususnya bagi para anak-anak yatim atau anak masyarakat yang memiliki kelas sosial bawah. Dalam hal teknis, pelaksanaan khitan masal juga berkaitan khusus dengan tradisi yang berkembangan di tengah masyarakat seperti melakukan upah-upah bagi anak-anak yang akan dikhitan secara masal tersebut. Dalam pandangan masyarakat lokal pelaksanaan upah-upah menurut Irwan Efendi dimaksudkan sebagai:
Upah-upah merupakan kegiatan mengembalikan semangat atau tondi dalam diri seseorang atau beberapa orang melalui lantunan kata yang memberi semangat dan nasehat. Upah-upah juga merupakan ungkapan kasih sayang seseorang kepada orang yang diupah-upah.
Selain dari pelaksanaan upah-upah. Hal lain yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan khitan adalah batasan usia anak-anak yang dikhitan umumnya berkisar sekitar usia 10 sampai 15 tahun. Pemilihan waktu ini tidak ada ketentuan khusus, tetapi batasan waktu ini menjadi sesuatu yang hampir disepakati masyarakat bahwa anak laki-laki apabila telah mencapai usia tersebut harus dikhitan.
Dalam penentuan pelaksanaan khitan ini, khususnya pada kini dilakukan oleh tenaga medis, baik yang terdiri atas manteri ataupun dokter menggunakan alat medis yang cangkih seperti gunting dan alat pemotong lainnya. Berkaitan dengan masalah khitan ini—jauh sebelum kemajuan teknologi kedokteran—pada awalnya pelaksanaan khitan, terutama di kalangan masyarakat Melayu pelaksanaan khitan dilakukan dengan menggunakan sembilu.

Penutup
Berdasarkan penjelasan sebelumnya dapat ditegaskan, bahwa Masjid Raya Ahmadsyah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan—dari masa lalu Tanjung Balai atau lebih tepatnya disebut—Kesultanan Asahan. Sebab, pelabelan nama Ahmadsyah jelas menunjukkan keterkaitannya dengan Sultan Ahmadsyah, yang merupakan salah seorang sultan yang pernah berkuasa di Kesultana Asahan. Selain sebagai aset sejarah Masjid Raya Ahmadsyah juga memiliki peran yang signifikan bagi perkembangan masyarakat. Paling tidak ada beberapa pesan utama Masjid Raya Ahmadsyah, yaitu peran sebagai tempat ritaul keagamaan dan peran sebagai gerakan sosial kemasyarakatan.[]

Bibliografi
Abdullah, Abdul Rahman Haji, Pemikiran Umat Islam di Nusantara: Sejarah dan Perkembangannya hingga Abad ke-19 (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990).
Azra, Azyumardi, Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah, Wacana dan Kekuasaan (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 1999).
Azra, Azyumardi, Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah, Wacana dan Kekuasaan (Jakarta: Remaja Rosdakarya, 1999).
Azra, Azyumardi, Surau: Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi (Ciputat: Logos Wacana Ilmu dan Pemikiran, 2003).
Bustamam, Ferry, Bunga Rampai Kesultanan Asahan (Medan: Bustamam, 2003).
Efendi, Irwan, et.al, Upah-Upah: Tradisi Membangkitkan Semangat dalam Masyarakat Melayu (Medan: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, 2008).
Hurgronje, Christian S., Aceh: Rakyat dan Istiadatnya (Jakarta: INIS, 1997).
Meuraxa, Dada, Sejarah Masuknya Islam ke Bandar Barus-Sumatera Utara (Sasterawan, 1973).
Pelly, Usman, et.al, Sejarah pertumbuhan pemerintahan kesultanan Langkat, Deli dan Serdang (Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, 1986).
Pranowo, Bambang, Memahami Islam Jawa (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2009).
Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional, Sejarah Perlawanan Terhadap Kolonialisme dan Imperialism di Sumatera Utara (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991).
Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Sejarah Daerah Sumatera Utara (Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978).
Reid, Anthony, The Contest for North Sumatra Acheh, The Netherlands and Britanian 1958-1898, terj. Masri Maris (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005).
Said, Mohammad, Koeli Kontrak Tempo Doeloe (Medan: Waspada, 1977).
Sinar, Luckman dan Syaifuddin, Kebudayaan Sumatera Timur (Medan: Universitas Sumatera Utara, 2002).
Syam, Nur, Islam Pesisir (Yogyakarta: Lkis, 2005) h. 73, Sidi Gazalba, Masjid Sebagai Pusat Ibadah dan Kebudayaan Islam (Jakarta: Pustaka Antara, 1962).
Zein, Abdul Baqir, ed, Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia (Jakarta: Gema Insani Press, 1999).

5 comments on “Sketsa Masjid Raya Ahmadsyah Tanjung Balai

  • Luar biasa penelitian ni, semoga dapat dikembangkan untuk pengembangan peninggalan sejarah yang ada didaerah, masih banyak aset sejarah kita yang layak untuk diteliti dan dipublikasikan. spt Istana Datuk Lima Laras dsb

  • Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    %d blogger menyukai ini: